Agama Masa Depan

Suatu saat pikiran saya pernah terusik oleh suatu hal, sebuah pertanyaan mengenai masa depan. Pertanyaannya adalah: “Adakah agama di masa depan? Jika ada, seperti apakah agama masa depan itu? Di antara agama-agama besar yang ada sekarang ini, adakah yang menjadi agama masa depan yang akan mengayomi kehidupan dan menjadi panduan hidup manusia?”

Jika kita menanyakan hal ini kepada mereka yang telah menganut agama yang ada sekarang ini, maka masing-masing menjawab bahwa agama yang mereka anutlah yang akan menjadi agama masa depan, sehingga jawaban dari pertanyaan tersebut menjadi tidak valid lagi karena ketidaknetralan personal yang menjawab pertanyaan tersebut. Oleh karena itu jawaban harus berasal dari pihak-pihak yang netral.

Nampaknya tidaklah mudah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini mengingat pertanyaan tersebut berhubungan dengan masa depan, sebuah masa yang belum terjadi dan penuh misteri. Meskipun masih terselubung misteri, dengan mengacu pada hukum sebab-akibat atau aksi-reaksi kita bisa melihat tanda-tanda yang berhubungan dengan masa depan. Hukum sebab-akibat menyatakan bahwa segala kondisi yang terbentuk di masa depan merupakan hasil atau akibat yang diciptakan pada masa sekarang. Dan tidak ada yang bisa menjawab secara tegas dengan dalil sebab-akibat atau aksi-reaksi ini selain para ilmuwan yang selalu berkecimpung dalam masalah aksi-reaksi ini.

Tetapi, ilmuwan yang mana dan seperti apa? Kita memerlukan ilmuwan yang benar-benar memegang teguh prinsip-prinsip keilmuannya, piawai dalam bidangnya, hasil karyanya diakui oleh dunia dan tentu saja ia pernah membahas pandangannya mengenai agama. Setelah saya “berselancar” di dunia maya dan juga mengunjungi Om Wiki, dari semua ilmuwan, nampaknya hanya nama Albert Einstein yang memenuhi syarat sebagai ilmuwan yang dapat menjawab pertanyaan kita mengenai agama masa depan. Baca lebih lanjut

Orang Cerdas Lebih Sedikit Percaya Akan Tuhan

Inggris, The Telegraph —
Menurut sebuah studi baru, orang-orang dengan IQ yang lebih tinggi, lebih sedikit yang percaya kepada Tuhan.

Profesor Richard Lynn, profesor psikologi pensiunan dari Universitas Ulster, mengatakan bahwa lebih banyak lagi anggota dari ”elit intelektual” menganggap dirinya sebagai atheis dibanding dengan nilai rata-rata nasional.

Ia mengklaim bahwa sebuah kemunduran dalam keberagamaan dalam abad belakangan ini berhubungan dengan sebuah peningkatan dalam nilai rata-rata kecerdasan.

Tetapi kesimpulan tersebut, dalam sebuah makalah untuk jurnal akademis Kecerdasan telah dianggap sebagai suatu ”penyederhanaan” oleh para kritisi.

Profesor Lynn, yang memulai kontroversi di masa lalu tentang penelitian mengenai hubungan antara kecerdasan dengan ras dan seks, mengatakan bahwa para akademisi universitas lebih kurang percaya kepada Tuhan dibanding dengan kelompok lainnya.

Sebuah survey dari anggota-anggota Royal Society menemukan bahwa hanya 3,3 persen yang percaya kepada Tuhan dimana disaat ketika 68,5 persen dari populasi umum menganggap diri mereka sebagai orang yang mempercayai Tuhan. Baca lebih lanjut