Agama Masa Depan

Suatu saat pikiran saya pernah terusik oleh suatu hal, sebuah pertanyaan mengenai masa depan. Pertanyaannya adalah: “Adakah agama di masa depan? Jika ada, seperti apakah agama masa depan itu? Di antara agama-agama besar yang ada sekarang ini, adakah yang menjadi agama masa depan yang akan mengayomi kehidupan dan menjadi panduan hidup manusia?”

Jika kita menanyakan hal ini kepada mereka yang telah menganut agama yang ada sekarang ini, maka masing-masing menjawab bahwa agama yang mereka anutlah yang akan menjadi agama masa depan, sehingga jawaban dari pertanyaan tersebut menjadi tidak valid lagi karena ketidaknetralan personal yang menjawab pertanyaan tersebut. Oleh karena itu jawaban harus berasal dari pihak-pihak yang netral.

Nampaknya tidaklah mudah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini mengingat pertanyaan tersebut berhubungan dengan masa depan, sebuah masa yang belum terjadi dan penuh misteri. Meskipun masih terselubung misteri, dengan mengacu pada hukum sebab-akibat atau aksi-reaksi kita bisa melihat tanda-tanda yang berhubungan dengan masa depan. Hukum sebab-akibat menyatakan bahwa segala kondisi yang terbentuk di masa depan merupakan hasil atau akibat yang diciptakan pada masa sekarang. Dan tidak ada yang bisa menjawab secara tegas dengan dalil sebab-akibat atau aksi-reaksi ini selain para ilmuwan yang selalu berkecimpung dalam masalah aksi-reaksi ini.

Tetapi, ilmuwan yang mana dan seperti apa? Kita memerlukan ilmuwan yang benar-benar memegang teguh prinsip-prinsip keilmuannya, piawai dalam bidangnya, hasil karyanya diakui oleh dunia dan tentu saja ia pernah membahas pandangannya mengenai agama. Setelah saya “berselancar” di dunia maya dan juga mengunjungi Om Wiki, dari semua ilmuwan, nampaknya hanya nama Albert Einstein yang memenuhi syarat sebagai ilmuwan yang dapat menjawab pertanyaan kita mengenai agama masa depan.

Albert Einstein, sebuah nama ilmuwan yang tidak asing dan tidak diragukan lagi kemampuan dan kejeniusannya. Dibandingkan dengan ilmuwan lainnya, pemenang Penghargaan Nobel dibidang Fisika tahun 1921 ini, pernah mengungkapkan pandangannya mengenai agama masa depan. Demikianlah pandangannya:

“The beginnings of cosmic religious feeling already appear in earlier stages of development— eg, in many of the Psalms of David and in some of the Prophets. Buddhism, as we have learnt from the wonderful writings of Schopenhauer especially, contains a much stronger element of it.

The religious geniuses of all ages have been distinguished by this kind of religious feeling, which knows no dogma and no God conceived in man’s image; so that there can be no church whose central teachings are based on it.”

[“Albert Einstein, The World As I See It“. 1949]

Beberapa tafsiran dari pernyataan Albert Einstein di atas adalah sebagai berikut:

“Buddhism has the characteristics of what would be expected in a cosmic religion for the future: It transcends a personal God, avoids dogmas and theology; it covers both the natural and the spiritual, and it is based on a religious sense aspiring from the experience of all things, natural and spiritual, as a meaningful unity.”

Mungkin di antara kita khususnya yang non-Buddhis akan sedikit terusik atau tidak suka dengan kenyataan ini, tetapi itulah yang pernah dinyatakan oleh Albert Einstein mengenai agama kosmik yang merupakan agama masa depan.

Lalu apa buktinya bahwa Buddhisme akan menjadi agama masa depan? Seperti yang telah saya sampaikan di atas bahwa masa depan adalah masa yang belum terjadi sehingga kita tidak bisa menyajikan bukti-buktinya, tetapi kita bisa melihat tanda-tandanya, ciri-cirinya.

Lalu apa ciri-cirinya? Salah satu cirinya adalah tidak adanya ajaran mengenai Tuhan yang berpribadi. Berbeda dengan agama-agama lain yang mengedepankan dogma mengenai keberadaan Tuhan yang berpribadi, Buddhisme tidak mengajarkan hal itu. Dengan demikian siapapun orangnya, apakah ia percaya akan adanya Tuhan atau tidak, seorang atheis, theis bisa mempelajari dan mempraktikkan ajaran yang ada dalam Buddhisme. Dengan kata lain ajaran Buddha itu bersifat universal.

Ciri lain yang unik dalam Buddhisme sehingga menjadi tanda sebagai agama masa depan adalah tidak adanya kepercayaan yang membuta atau dalam agama lain sering disebut dengan iman. Apa yang ada dalam Buddhisme adalah sebuah keyakinan yang terbentuk dari pengalaman dari pembuktian masing-masing individu secara bijaksana. Ehipassiko, sebuah slogan yang diterapkan oleh para Buddhis dalam mempraktikkan Buddhisme. Ehipassiko berarti datang, lihat dan buktikan sendiri! Tuntutan akan adanya pembuktian sebelum menerima sesuatu sebagai kebenaran juga dipergunakan dalam ilmu pengetahuan (sains). Oleh karena itulah tidak dapat disangkal bahwa Buddhisme sejalan dengan ilmu pengetahuan.

Buddhisme pada masa sekarang telah menjadi pusat perhatian masyarakat Barat. Pemikiran-pemikiran bersifat Buddhistik pun mulai mempengaruhi pemikiran masyarakat Barat. Salah satu pemikiran Buddhis adalah mengenai Karma (bahasa Sanskerta) atau Kamma (bahasa Pali), meskipun pemikiran mereka terhadap Karma belumlah sedalam dari pengertian Karma itu sendiri. Selain itu berbagai penelitian menjelaskan bahwa Buddhisme merupakan jembatan penghubung antar kebudayaan dan bahkan perintis dari kebudayaan Barat. Mengenai hal ini akan kita bahas dilain kesempatan.

Tanda-tanda lain yang mencirikan bahwa Buddhisme akan menjadi agama masa depan adalah adanya pergeseran tren agama di dunia ini. Buddhisme yang pada mulanya lahir dan berkembang di wilayah Asia akan mengalami kemudurannya di beberapa wilayah Asia dan digantikan oleh agama Barat. Namun kemunduran Buddhisme di beberapa wilayah Asia akan diimbangi dengan berkembangnya Buddhisme di luar wilayah Asia. Sebagai contoh, Buddhisme di Korea Selatan pada masa sekarang mengalami kemunduran yang signifikan, dan agama Kristen mulai berkembang di sana. Namun di Australia, Buddhisme menjadi agama yang paling berkembang pesat. Tren pergeseran agama ini menyerupai tren pergeseran desain interior atau gaya arsitektur sebuah bangunan, dimana masyarakat Asia akan beramai-ramai melirik dan mempergunakan gaya arsitektur Barat sedangkan masyarakat Barat yang sudah jenuh dengan tren gaya arsitekturnya akan melirik gaya arsitektur Asia.

Pembentukan masa depan tidaklah terlepas dari kondisi-kondisi apa yang dipersiapkan pada masa sekarang. Buddhisme akan menjadi agama masa depan atau tidak, tergantung dari kondisi-kondisi yang disiapkan oleh para pemeluknya. Tidak ada kekuatan apapun yang dapat memajukan atau meruntuhkan agama manapun selain para pemeluknya sendiri.

S