Semakin Tinggi Semakin Ringan

bird and tree

Semakin Tinggi Semakin Ringan

Teman, pernahkah kita memperhatikan pucuk dari sebuah pohon yang menjulang tinggi? Pucuk dari sebuah pohon yang menjulang tinggi tidaklah memiliki banyak daun. Pucuk dari sebuah pohon yang menjulang tinggi memiliki berat yang lebih ringan dibanding dengan bagian pohon lainnya. Oleh karena itulah ia bisa menjulang tinggi, berada di atas.

Lihat pula burung yang terbang tinggi di angkasa. Teman, burung yang terbang tinggi di angkasa memiliki bobot tubuh yang ringan. Ia memiliki tulang yang ringan dibandingkan dengan hewan yang lain. Oleh karena itu ia bisa terbang tinggi. Semakin tinggi, semakin ringan.

Sekarang coba kita perhatikan para pejabat, atasan, pimpinan atau mereka yang memiliki kedudukan, pangkat yang tinggi. Apakah mereka membawa hal-hal yang berat ketika berpergian? Tidak. Mereka hanya membawa sendiri yang mereka anggap perlu yang sifatnya ringan. Seorang presiden, ia tidak membawa mobilnya sendiri, ia tidak membawa berkas-berkas laporan yang berjilid-jilid. Ia hanya membawa sebuah pulpen. Semakin tinggi jabatan, kedudukan seseorang maka semakin sedikit yang ia bawa, dan semakin ringan beban yang ia rasakan. Baca lebih lanjut

Islam Bukan Satu Satunya Agama Yang Tidak Gunakan Nama Pendirinya

Hari ini 10 September, saya mengikuti sebuah acara di Metro TV yaitu Ensiklopedia Islam, sebuah acara tahunan yang diadakan dalam rangka mengisi bulan Ramadhan. Tahun ini acara Ensiklopedia Islam bertemakan “Indahnya Shalat” yang membahas mengenai seluk-beluk shalat.

Acara yang disiarkan langsung selama kurang lebih satu jam dari pukul 17.00 WIB dan yang dipandu oleh Shahnaz Haque, kali ini membahas tema Jama’ah. Narasumber yang hadir adalah Ustadz Abu Sangkan.

Yang menjadikan acara ini sedikit menarik untuk saya kritisi adalah penjelasan Ustadz Abu Sangkan mengenai perbandingan nama pada agama-agama besar.

Beliau mengatakan bahwa Islam adalah satu satunya agama yang tidak menggunakan nama pendirinya ataupun tempat sebagai nama ajarannya. Kristen dari Christian (nama pendirinya Jesus Christ), Hindu dari Hindustan (nama tempat dataran Hindustan), Kejawen dari Jawa (nama tempat yaitu Jawa) Buddhisme dari Buddha (nama orang). Sedangkan Islam sendiri menggunakan nama Islam yang dapat diterjemahkan sebagai ‘berserah diri’, ‘tunduk’ dan secara etimologis kata Islam diturunkan dari akar yang sama dengan kata salam yang berarti ‘damai’. Lalu, apakah benar yang disampaikan oleh Ustadz Abu Sangkan tersebut? Ternyata tidak sepenuhnya benar. Baca lebih lanjut