Nabi Muhammad Tidak Terdapat Dalam Kitab-Kitab Buddha

Teman, mari kita meluruskan apa yang tidak lurus, sehingga tidak ada lagi kesalahpahaman yang akan menimbulkan suatu permasalahan tersendiri ataupun pemutarbalikan fakta. Argumen ini ditujukan untuk membahas mengenai artikel-artikel dibuat oleh orang yang tidak bertanggungjawab yang berisi mengenai keberadaan Muhammad SAW dalam kitab suci agama Buddha. Sayangnya banyak orang-orang yang lugu mempercayai artikel ini mentah-mentah tanpa melakukan cek dan ricek terlebih dulu , dan langsung meng-copy paste (menjiplak) nya dari situs yang satu ke situs yang lain. Mari kita simak artikel sanggahan ini.

Pertama dimanapun di dunia ini, ketika kita bertanya apakah kitab suci agama Buddha ? Maka jawabannya adalah Tipitaka (bahasa Pali) atau Tripitaka (bahasa Sanskerta). Tipitaka itu sendiri merupakan kumpulan sabda-sabda Buddha yang dikumpulkan setelah Sang Buddha wafat (parinibbana). Di sebut Tipitaka karena terdapat 3 (ti/tri) bagian, yaitu Vinaya Pitaka (peraturan para Bhikkhu), Sutta Pitaka (Kotbah panjang dan pendek Sang Buddha), dan Abhidhamma Pitaka (psikologi dan metafisika Buddhis). Dan di dalam Tipitaka terdapat 84.000 pokok ajaran, ratusan bahkan ribuan judul, sehingga dengan demikian Tipitaka tidak berbentuk suatu (satu) buku saja, tetapi ratusan buku.

The Gospel of Buddha, 1894 merupakan karya Paul Carus Ph.d. (banyak orang yang salah menulis nama Paul Carus menjadi Caras). Ia adalah seorang editor Jerman–Amerika. Ia menganggap dirinya “an atheist who loved God.” Ia tertarik dengan Buddhisme dan ingin memperkenalkannya kepada dunia Barat sehingga ia mulai merangkum sebagian kecil dari banyak kotbah yang ada dalam Tipitaka.

Jadi perlu digaris bawahi adalah kitab suci agama Buddha adalah Tipitaka bukan The Gospel of Buddha. Dengan demikian pembahasan yang sah mengenai agama Buddha adalah dengan mengacu pada Tipitaka bukan pada Gospel of Buddha karya Paul Carus. Hal ini dikarenakan tidak semua yang ada dalam Tipitaka termuat dalam Gospel of Buddha. Dengan kata lain Gospel of Buddha tidak mengungkapkan keseluruhan fakta yang ada dalam tipitaka.

Sekarang mari kita bahas mengenai artikel ”Muhammad SAW Menurut Pandangan Kitab Hindu Budha Dan Kristen” atau ”Nabi Muhammad Dalam Kitab-Kitab Buddha”

Dalam artikel dikatakan bahwa :

.”Dalam tradisi Budha, pemimpinnya sendiri Sidharta Gautama telah meramalkan kedatangan seorang manusia yang diberi wahyu. Dalam Doktrin Budha (The Gospel of Buddha) oleh Caras (hal.217-8) tercantum bahwa Budha agung yang akan datang ke dunia ini dikenal sebagai “Maitreya”. Cakkavatti-Sihanada Suttana memberinya nama “Meteyya”. Kedua kata ini bermakna “pemberi rahmat”. Dengan merujuk kepada sejarah kehidupan Muhammad saw, kentara sekali beliau adalah orang sangat penyayang dan al-Quran juga menyebut-nyebut fakta ini.”

Pertama penulis tidak teliti dengan nama penyusun The Gospel of Buddha dengan menulisnya dengan nama Caras, padahal namanya adalah Paul Carus.

Kemudian, baik dalam The Gospel of Buddha (GOB) maupun ketika kita merujuk pada Tipitaka yaitu Cakkavatti-Sihanada Suttanta (bukan Suttana), tidak ada satupun kalimat yang menyatakan bahwa Maitreya (bahasa Sanskerta) atau Metteyya (bahasa Pali) berarti “pemberi rahmat”. Dalam GOB dikatakan bahwa “He will be known as Metteyya, which means ‘he whose name is kindness.’ (Chapter 96 of 100, Metteya). Kindness atau penuh kasih. Kata maitreya atau metteyya merupakan kata dari bahasa Sanskerta dan Pali yang berasal dari kata ”maitri” dan ”metta” yang berarti cinta kasih. Dengan demikian Maitreya bukanlah berarti ”pemberi rahmat” tetapi ”penuh cinta kasih”. Adalah hal yang berbeda baik dipandang dari definisi maupun maknanya antara ”pemberi rahmat” dengan ”penuh cinta kasih”

Kemudian dalam GOB tidak dijelaskan kapan , dimana dan apa ciri dari kedatangan Maitreya itu. Hal ini penting untuk membandingkan antara Maitreya dengan Muhammad SAW, baik dari waktu kelahiran, tanda-tanda, sampai kondisi dunia. Oleh karena itu jika mengacu pada GOB kita hanya bisa membahasnya sampai pada arti Maitreya yang akhirnya pada dasarnya memiliki arti yang berbeda.

Satu-satunya cara memastikan apakah Maitreya adalah Muhammad SAW, kita perlu mengacu pada sutta-sutta dalam Tipitaka yang membahas mengenai Maitreya (Metteyya), salah satunya adalah Cakkavatti-Sihanada Sutta yang terdapat dalam Sutta Pitaka, Digha Nikaya 26.

Tanda-tanda
Kelahiran Maitreya ditandai dengan kondisi manusia yang memiliki usia sampai 80.000 tahun. Dan pada masa ini orang-orang hanya akan ada tiga macam penyakit — keinginan, lupa makan dan ketuaan. Apakah ketika Muhammad SAW lahir diikuti dengan tanda-tanda ini ? Jawabannya Tidak.

Tempat kelahiran
Tempat kelahiran Maitreya adalah di negara Jambudipa (istilah lain dari India). Pada masa itu ibu kota Jambudipa adalah kota Ketumati (Varanasi) merupakan kota kerajaan yang besar dan makmur, berpenduduk banyak dan padat serta berpangan cukup. Apakah Muhammad SAW lahir di India? Jawabannya Tidak.

Tanda-tanda Fisik
Maitreya akan memiliki 32 ciri fisik, diantaranya adalah tanda berbentuk roda (cakra) ditelapak kakinya.
Apakah Muhammad SAW memiliki tanda lahir seperti ini ? Jawabannya Tidak.

Gelar
Maitreya akan disebut dengan nama Buddha Maitreya dengan gelar Bhagava Arahat Sammasambuddha (Yang Mulia, Yang Patut Dihormati, Buddha yang Sempurna). Yang sempurna dalam pengetahuan dan pelaksanaannya, sempurna menempuh jalan, pengenal segenap alam, pembimbing manusia yang tiada taranya, guru para dewa dan manusia, yang sadar serta yang patut dimuliakan, yang sama seperti Buddha Gautama. Apakah Muhammad SAW diberi gelar oleh para pengikutnya dengan gelar Sang Buddha (Yang Sadar), Bhagava Arahat Sammasambuddha ? Jawabannya Tidak.
Apakah Muhammad SAW dikatakan sebagai guru para dewa dan manusia ? Jawabannya Tidak. Gelar Muhammad adalah Nabi Utusan Allah, Rasul Allah.

Ajaran
Karena Maitreya adalah seorang Buddha dan seperti yang dikatakan oleh Buddha Gautama sendiri bahwa, ajaran Maitreya akan memiliki inti yang sama dengan Buddha sebelumnya antara lain 4 Kebenaran Arya, Jalan Utama Berunsur Delapan, Karma, Rebirth (kelahiran kembali), Paticcasamupadda. Apakah ajaran Islam yang dibawa Muhammad SAW mengajarkan 4 Kebenaran Arya, Jalan Utama Berunsur Delapan, Karma, Rebirth (kelahiran kembali), Paticcasamupadda? Jawabannya Tidak.

Dari hal-hal di atas, masih banyak lagi ciri-ciri keberadaan Maitreya dalam Sutta-sutta lain yang memberikan perbedaan antara Muhammad SAW dengan Maitreya.

Kesimpulan

Baik dari nama, tanda-tanda dunia , tempat kelahiran, ciri fisik, gelar, dan ajarannya, tidak satu pun yang mengacu bahwa Maitreya adalah Muhammad SAW. Ciri-ciri seperti beristri, memiliki pengikut ribuan tidaklah menjadi dasar yang tepat untuk mengatakan bahwa Maitreya adalah Muhammad SAW, karena ciri-ciri ini adalah ciri-ciri umum yang dapat dimiliki oleh semua orang bahkan sekelas Hitler yang memiliki istri dan pengikut ribuan. Bahkan pada dasarnya seorang Buddha tidak pernah menikah (hidup selibat), ketika ia menjadi calon Buddha lah mereka mereka hidup dalam pernikahan.

Jadi, tidaklah benar sama sekali bahwa kitab suci agama Buddha (Tipitaka) menyatakan kedatangan Muhammad SAW. Tetapi Tipitaka menyatakan kedatangan Maitreya. Dengan demikian, Maitreya adalah orang yang berbeda dengan Muhammad SAW.

Artikel maupun buku Agama Buddha Dan Nabi Muhammad (S.A.W) Dalam Kitab Agama Buddha karya Dr. Zakir Naik, artikel dari http://www.harunyahya.com/buddhism01.php ini hanyalah suatu bentuk ketidaktelitian penulis akan isi dan fakta yang terdapat dalam Tipitaka dan berusaha menyamakan Maitreya dengan Muhammad SAW. Dan, bukankah dengan mengatakan hal yang tidak benar adalah merupakan suatu bentuk penipuan?

Semoga kita semua dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dan bagi kita yang peduli akan kebenaran, hendaknya kita meluruskan apa yang tidak benar.

Iklan