Patung Gus Dur, Penodaan Terhadap Toleransi Agama

Baru empat puluh hari lebih Gus Dur meninggalkan kita, beliau mungkin akan terganggu dan risau akan hal ini. Konon, untuk menghormati Gus Dur, beberapa seniman dari Jawa Tengah di Studio Mendut membuat berbagai karya dalam bentuk patung dan lukisan Gus Dur. Namun ada sebuah patung yang menjadi perhatian saya yaitu sebuah patung yang dihasilkan oleh seorang “seniman” bernama Cipto Purnomo (bisa di lihat gambarnya klik sini). Bagi kita yang belum pergi ke Candi Borobudur atau memperhatikan apa yang ada di Candi Borobudur maka kita tidak akan menyadari akan hal ini. Benar, patung Gus Dur buatan Cipto Purnomo sangat mirip dengan patung Sang Buddha yang ada di Candi Borobudur.

Patung Gus Dur buatan Cipto Purnomo ini, dilihat dari bentuk, struktur, dan gayanya sama dengan patung Buddha di Candi Borobudur, yang berbeda hanyalah wajah dan bagian dada yang berlubang (untuk lampu). Wajah Sang Buddha di ganti dengan wajah Gus Dur. Kemudian diletakkan beragam topeng di sekeliling patung itu. Lalu, apakah ada yang salah dengan patung ini? Mari kita bahas.

Dari Segi Seni

Jika saya boleh menilainya, maka saya mengatakan bahwa patung Gus Dur karya Cipto Purnomo merupakan “karya” seni murahan. Bahkan saya harus menggunakan tanda kutip pada kata karya untuk menilai bahwa ini bukanlah sesuatu yang pantas di sebut dengan nama KARYA. Alasannya apa? Alasannya karena 70-80% wujud patung tersebut adalah meniru hasil karya agung orang lain, yaitu hasil karya seniman yang telah membuat Candi Borobudur. Bagaimana mungkin sesuatu yang hanya meniru bisa disebut karya yang bermutu?

Mungkin saja si pembuat patung Gus Dur tersebut terinspirasi dengan ketokohan Sang Buddha terhadap perilaku Gus Dur, hal ini sah-sah saja, tapi mewujudkan inspirasi tersebut dengan meniru karya orang lain tentulah bukan sikap seniman yang sejati. Seorang seniman sejati adalah seniman yang mewujudkan inspirasi-inspirasinya dengan menciptakan karya yang berbeda sama sekali dengan karya yang sudah ada. Ataupun setidaknya hanya 30-40% bagian dari karyanya yang mirip dengan karya orang lain. Patung Gus Dur buatan Cipto Purnomo ini justru memiliki kemiripan 70-80% karya orang lain. Bahkan bisa dikatakan ini adalah patung Buddha yang diubah wajahnya. Setidaknya patung ini adalah hasil dari keputusasaan pembuatnya terhadap cara mewujudkan inspirasinya.

Jelas, tidak semua orang memahami seni, tapi sebuah karya seni yang agung adalah sebuah karya seni yang akan melahirkan inspirasi baru yang baik mengenai apapun bagi orang lain. Contoh Candi Borobudur sendiri telah memberikan inspirasi baru bagi orang lain, bahkan bagi Cipto Purnomo.

Penodaan Terhadap Kinerja Gus Dur

Patung Buddha yang diubah wajahnya menjadi wajah Gus Dur jelas menimbulkan protes dari beberapa kalangan umat Buddha. Meskipun bukan untuk disembah, patung atau dikalangan Buddhis disebut dengan rupang, merupakan obyek untuk berkonsentrasi terhadap sifat-sifat agung dari Sang Buddha. Sayangnya hal ini tidak dipahami oleh masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Bahkan berkesan tidak sensitif sama sekali terhadap agama minorotas. Jika kita kilas balik berbeda sekali ketika ada kartun Nabi Muhammad tersebar, mayoritas Muslim begitu sensitif.

Gus Dur semasa hidupnya merupakan orang yang memiliki toleransi agama yang baik, sehingga di akhir hayatnya umat agama non Muslim juga turut mengiringi kepergiannya. Dan patung Gus Dur buatan Cipto Purnomo ini telah memberikan keresahan bagi kalangan agama tertentu, dalam hal ini bagi umat Buddha. Bukankah ini menandakan adanya toleransi agama yang rendah? Apalagi wajah yang digunakan adalah wajah Gus Dur, ini juga berarti merupakan penghinaan, penodaan terhadap kinerja Gus Dur dimana Gus Dur selalu mengedepankan toleransi agama di masa hidupnya.  Jadi apakah patung Gus Dur buatan Cipto Purnomo ini bisa digolongkan sebagai bentuk penghormatan kepada Gus Dur? Jelas tidak. Sebuah penghormatan terbaik kita kepada orang-orang yang menjadi panutan kita adalah melaksanakan petuah baik mereka dan menjaga apa yang telah dibangun oleh mereka selama ini. Patung Gus Dur buatan Cipto Purnomo ini jelas bertolak belakang dengan apa yang telah diusahakan oleh Gus Dur yaitu toleransi beragama.

Kesimpulannya: jelas Patung Gus Dur buatan Cipto Purnomo ini tidak pantas disebut sebagai karya seni, selain tidak murni juga tidak dilandasi oleh filosofi yang benar. Dan sangat disayangkan jika patung ini ada di sebuah studio seni, yang jelas akan menurunkan kredibilitas studio seni itu.

Iklan