Haruskah Publik Memaafkan Cut Tari dan Luna Maya?

Kamis 8/7 Cut Tari dan Luna Maya meminta maaf terkait dengan hebohnya video panas mirip artis. Dan keduanya telah dijadikan tersangka oleh Polri dan dikenakan pasal 282 dan 55 KUHP. Pasal 282 tentang kesusilaan, sedangkan pasal 55, pasal penyertaan.

Pertanyaannya yang timbul adalah perlukan publik memaafkan keduanya? Jelas bagi kita yang bermoral dan beragama jika seseorang meminta maaf atas kesalahannya maka memberi maaf adalah hal yang baik, ini menandakan kita memiliki hati yang lapang. Permasalahannya dalam kasus Cut Tari dan Luna Maya ini adalah dalam hal kesalahan apa yang perlu kita maafkan? Pembuatan video porno? Belum ada pengakuan yang tegas dari keduanya bahwa mereka membuat video itu untuk di sebarkan ke publik. Bahkan belum ada penegasan dari Luna Maya bahwa pemeran video mesum itu adalah dirinya. Apakah karena pemberitaan yang menimbulkan keresahan? Pemberitaan video ini menjadi besar bukanlah karena mereka tetapi karena media massa serta opini-opini publik dengan prasangka-prasangka yang muncul.

Jika mereka melakukan hubungan seksual dan direkam hanya untuk pribadi, dalam hal ini mereka jelas tidak melakukan kesalahan, karena ini adalah hal yang pribadi dimana seseorang bebas mengekspresikan apa yang ada dipikirannya, dan mengekspresikan diri adalah salah satu hak asasi manusia. Dalam hal ini tidak ada yang perlu dimaafkan. Tapi hak asasi ini menjadi luntur ketika mengganggu hak orang lain. Dalam kasus video porno mirip artis, tindakan menyebarkan video porno inilah yang akan mengganggu tatanan kemasyarakatan karena telah melanggar Undang-Undang Pornografi. Oleh karena itulah penyebar video porno inilah yang perlu dikejar.

Human rights Declaration:
Article 19
Everyone has the right to freedom of opinion and expression; this right includes freedom to hold opinions without interference and to seek, receive and impart information and ideas through any media and regardless of frontiers.

Jadi bukankah sebelum ada kejelasan kesalahan apa yang seseorang telah lakukan, maka kita belum bisa menentukan memaafkan atau tidak memaafkan?

Iklan