Haramkah Menghormati Bendera Negara?

Bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia

Bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sbr foto: Flickr

Memberikan penghormatan kepada bendera adalah haram hukumnya. Demikian pernyataan pribadi seorang tokoh agama Indonesia dalam berita di MSN Indonesia (23/3). Sayangnya penyataan tokoh agama yang bernaung pada organisasi yang ternyata juga menggunakan kata “Indonesia” dalam organisasinya tersebut diamini oleh tokoh agama radikal yang rasa nasionalisnya pun diragukan. Hal ini tentu sedikit menggelitik kita-kita yang memiliki semangat nasionalis dan sepertinya hal ini layak untuk kita kritisi. Bagi anda yang tidak suka dengan kritikan, disarankan untuk tidak membaca kritikan ini.

Pertama mari kita lihat alasan mengapa yang bersangkutan menyatakan bahwa menghormati bendera adalah haram hukumnya (bagi Muslim khususnya). Yang bersangkutan mengatakan bahwa manusia tidak sewajarnya menghormati sebuah benda, termasuk bendera dan yang dihormati adalah orang yang lebih tua dari kita secara usia. Sekilas memang sangat masuk akal pendapat ini dalam konteks ke-Islam-an. Namun, hal ini menjadi sebuah ironi ketika kita dihadapkan kepada tradisi dimana seluruh umat Islam di dunia bersujud, menundukkan kepala, mengarah kepada sebuah bangunan batu berbentuk bujur sangkar yang disebut dengan Ka’bah. Belum lagi tradisi mencium sebuah batu hitam yang disebut Hajar ‘Aswad. Bukankah ini suatu bentuk lain dari penghormatan terhadap benda? Mengapa ini tidak diharamkan?

Idiot*! Bersujud ke arah Ka’bah bukanlah suatu penghormatan kepada benda!” Demikian mungkin yang ada dalam pemikiran beebrapa pembaca. Namun bagi yang lain tindakan tersebut tetap merupakan bentuk pemghormatan, penyembahan terhadap benda. Mereka akan menilai bahwa Muslim juga menyembah berhala.

Jika bukan bentuk dari penghormatan kepada benda, lalu suatu apakah itu? Di antara kita mungkin akan berpendapat bahwa bersujud ke arah Ka’bah merupakan sebuah simbol persatuan umat Muslim dalam menghormati, menyembah dan bersujud kepada Illahi, bukan kepada batu. Dari penjelasan ini dapat kita artikan bahwa fungsi Ka’bah adalah sebuah simbol. Begitu juga Hajar ‘Aswad.

Saat kita telah memahami bahwa Ka’bah adalah simbol terhadap penghormatan yang lebih tinggi yaitu kepada Illahi, maka seharusnya kita pun bisa memahami bahwa menghormati bendera juga merupakan simbol penghormatan terhadap nilai-nilai yang lebih tinggi. Nilai-nilai tinggi apa sajakah yang terkandung dalam bendera negara?

Ketika SD mapun SMP, guru kita mungkin menjelaskan makna bendera merah-putih dan mengapa kita memberikan penghormatan kepada bendera negara. Beliau menjelaskan bahwa warna merah pada bendera adalah simbol keberanian, ketidakgentaran karena adanya kebenaran dalam diri kita. Sedangkan warna putih adalah simbol kesucian, kebersihan hati dalam memperjuangkan kebenaran. Dua buah nilai yang tinggi yang disimbolkan dari sebuah bendera negara yang patut kita hargai, hormati dan terapkan.

Selain itu, menghormati bendera adalah simbol penghormatan terhadap para pahlawan yang telah berjasa berjuang merebut kemerdekaan bangsa. Demikianlah makna atau nilai yang lebih tinggi dari menghormati bendera negara. Apakah nilai-nilai seperti berani karena benar dan kesucian ‘hati’ juga diharamkan? Bukankah para pahlawan tersebut juga lebih tua dari kita dan patut dapat penghormatan? Apakah menghormati para pahlawan juga diharamkan? Apakah seseorang layak disebut sebagai tokoh agama jika ia mengharamkan nilai-nilai berperilaku berani karena benar dan kesucian ‘hati’?

Dengan tidak memahami hakikat nilai dari penghormatan terhadap bendera negara bukankah sama idiot-nya dengan tidak memahami hakikat dari penghormatan ka’bah? Bukankah dengan mengharamkan menghormati bendera negara adalah bentuk dari ke-idiot-an seseorang yang tidak memahami makna yang terkandung dalam bendera negara? Atau mungkinkah yang bersangkutan tidak lulus SD atau SMP sehingga tidak mengetahui pengetahuan dasar ini? Ataukah yang bersangkutan sudah terlalu tua sehingga pikun?

KESIMPULAN
Dari kritikan di atas kita bisa menyimpulkan sendiri apakah haram atautidak untuk menghormati bendera negara. Yang perlu digaris bawahi adalah penting bagi kita untuk merekonstruksi ulang pemikiran kita terhadap penghormatan terhadap simbol-simbol negara dengan berusaha memahami secara benar makna atau nilai-nilai tinggi yang terkadung di dalamnya, sehingga kita tidak terjebak dalam pandangan sempit yang dengan mudah menilai suatu hal sebagai sesuatu yang haram. Jika tidak, maka cepat atau lambat negara Indonesia ini akan kehilangan jati dirinya. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini bisa bubar. Tentu saja kekhawatiran ini tidak berlaku bagi mereka-mereka yang cukup idiot yang berusaha meruntuhkan negara kesatuan ini dan menggantinya dengan negara agama dan meng-Arab-nisasi bangsa Indonesia yang majemuk ini.[- S -]

Catatan Kaki:
* idi·ot n taraf (tingkat) kecerdasan berpikir yg sangat rendah (IQ lebih kurang 25); daya pikir yg lemah sekali (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

Iklan