Anekdot Tuhan Ada Dimana-Mana

Suatu malam seorang pemuda baru pulang dari pesta narkoba bersama teman-temannya. Dengan setengah sadar ia berjalan terhuyung-huyung di sebuah jalan. Tiba-tiba ia menabrak seseorang yang ternyata seorang rohaniwan. Menyadari bahwa yang menabraknya adalah seorang pemabuk, rohaniwan tersebut “merasa terpanggil” untuk menyadarkan perilaku buruk pemuda tersebut.

Berikut perbincangan kedua manusia berbeda “jalan” tersebut:

Rohaniwan: Saudaraku, apa yang telah engkau lakukan?

Pemuda : Huh?? (merasa bingung dengan pertanyaannya)

Rohaniwan: Saudaraku, seharusnya engkau tidak menyia-yiakan masa mudamu.

Pemuda : Maksudnya apa, bro? (dengan logat gaul)

Rohaniwan: Saudaraku, engkau menyia-nyiakan waktumu dengan mabuk-mabukan.

Pemuda : Bro, gue tidak menyia-nyiakan waktu kok, dengan mabuk gue telah mengisi waktu gue dengan indah dan tanpa beban.

Rohaniwan: Saudaraku, tahukah engkau bahwa mabuk adalah perbuatan yang dilarang oleh agama, apakah engkau tidak takut akan keberadaan Tuhan?

Pemuda : Huh? Takut same Tuhan?

Rohaniwan: Benar.

Pemuda : Bro, waktu nyimeng gue ngak lihat sapa-sapa selain temen gue. Gue ngak lihat Tuhan, dimana die? (masih dengan logat gaulnya)

Rohaniwan: Saudaraku, Tuhan itu ada dimana-mana.

Pemuda : Huh?! Ada dimane-mane?

Rohaniwan: Benar, Saudaraku, Tuhan itu ada dimana-mana. (sambil tersenyum)

Pemuda : Beneran? (dengan wajah pilon, entah karena pengaruh narkoba atau memang pilon sungguhan)

Rohaniwan: Benar. Ingatlah Dia, maka Dia akan ada di dalam hatimu. (sambil tetap mengumbar senyum)

Pemuda : (sambil mengeluarkan sesuatu dari saku jaket kulitnya) Ooo…kalau begitu….. Tuhan juga ade di dalam ekstasi ini donk?! Dengan minum ini berarti Tuhan juga ada dalam diri gue he..he..hehe..(sambil menenggak sebutir pil ekstasi dan berlalu pergi meninggalkan rohaniwan sendirian.)

Rohaniwan: ……!!!

– Tamat –

Makna:

Kadang kala kita melabelkan sesuatu yang tidak seharusnya dilabelkan, sehingga akhirnya membuat sesuatu tersebut kehilangan makna sejatinya. Begitu juga saat kita melabelkan Tuhan sebagai yang ada dimana-mana berarti kita telah menghilangkan makna sejatinya. Jika Tuhan ada dimana-mana, maka Tuhan juga berada di sebutir ekstasi bahkan di kotoran hewan sekalipun. Jika Tuhan tidak ada di sebutir ekstasi ataupun kotoran hewan, maka itu berarti Tuhan tidak ada dimana-mana, Ia hanya ada di tempat tertentu saja.

Iklan