Banjir Manado, Ketika Tuhan Melanggar Janjinya

Banjir bandang di Manado, Sulawesi Utara yang terjadi pada Rabu 15 Januari 2014 dan menelan korban jiwa sebesar 19 orang, tidak hanya menyisakan penderitaan, tetapi juga menyisakan pertanyaan mengenai cerita yang dikisahkan dalam  mitos Nabi Nuh (Inggris: Noah) dalam kitab-kitab suci agama Abrahamisme (Yahudi, Kristen, Islam).

Seperti yang kita ketahui bersama baik dari kitab suci Tanakh/Taurat (Yahudi), Alkitab Perjanjian Lama (Kristen), dan Al’Quran (Islam) , kisah mitos Nabi Nuh berkaitan dengan banjir besar yang diturunkan Tuhan untuk menghukum dosa-dosa manusia. Alih-alih menggunakan cinta kasih dan kekuatannya yang luar biasa tiada batas untuk mempengaruhi  pikiran manusia untuk kembali ke jalan yang benar, Tuhan lebih memilih tidak sabar untuk memusnahkan manusia dengan menurunkan hujan yang mengakibatkan banjir besar. Dalam Al’Quran, dimana kisah Nuh secara acak diuraikan di dalam berbagai Surah.

“The Deluge” (Banjir Besar), oleh John Martin, 1834. Sumber; wikipedia.com

Yang menarik, di akhir cerita mitos Nuh dalam kitab suci Tanakh (Yahudi) dan Alkitab Perjanjian Lama (Kristen) menyebutkan adanya persitiwa perjanjian antara Tuhan dengan bumi dan isinya. Sayangnya Al’ Quran nampaknya luput untuk menceritakan kembali perjanjian dari mitos yang diduga berasal dari adaptasi mitos banjir dalam kisah rakyat Sumeria di Mesopotamia yaitu Epos Gilgames.

Isi perjanjian antara Tuhan dengan bumi adalah Tuhan berjanji untuk tidak lagi menurunkan air bah. Untuk menandai perjanjian tersebut Tuhan menaruh busurnya (kemungkinan yang dimaksud adalah pelangi) di atas awan, sehingga ketika Tuhan mendatangkan awan dan ia melihat busur itu, ia tidak akan mengubah segenap air menjadi air bah.

Berikut kutipan dari kitab suci Tanakh (Yahudi) di Bərē’shît 9: 12-17 dan Alkitab Perjanjian Lama (Kristen) di Kejadian 9: 12-17, yang menyebutkan perjanjian tersebut, dan kedua kitab tersebut menceritakan hal yang persis sama.

Dalam bahasa Indonesia

9:12. Dan Allah berfirman: “Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya:

9:13. Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi.

9:14 Apabila kemudian Kudatangkan awan di atas bumi dan busur itu tampak di awan,

9:15 maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, segala yang bernyawa, sehingga segenap air tidak lagi menjadi air bah untuk memusnahkan segala yang hidup.

9:16 Jika busur itu ada di awan, maka Aku akan melihatnya, sehingga Aku mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup, segala makhluk yang ada di bumi.”

9:17 Berfirmanlah Allah kepada Nuh: “Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan segala makhluk yang ada di bumi.”

Dalam bahasa Inggris

12 And G-d said: ‘This is the token of the covenant which I make between Me and you and every living creature that is with you, for perpetual generations:

13 I have set My bow in the cloud, and it shall be for a token of a covenant between Me and the earth.

14 And it shall come to pass, when I bring clouds over the earth, and the bow is seen in the cloud,

15 that I will remember My covenant, which is between Me and you and every living creature of all flesh; and the waters shall no more become a flood to destroy all flesh.

16 And the bow shall be in the cloud; and I will look upon it, that I may remember the everlasting covenant between G-d and every living creature of all flesh that is upon the earth.’

17 And G-d said unto Noah: ‘This is the token of the covenant which I have established between Me and all flesh that is upon the earth.’

Dengan masih adanya banjir air bah  hingga pada zaman modern ini di berbagai tempat di dunia, seperti banjir bandang di Manado,  adalah wajar bagi kita untuk mempertanyakan kebenaran dari kisah Nuh khususnya perjanjian yang dibuat oleh Tuhan. Jika kisah Nuh dalam kitab-kitab agama Abrahamisme itu benar, bukankah ini berarti Tuhan telah melanggar janjinya sendiri?

Tentu saja akan ada bantahan bahwa banjir bandang terjadi karena ulah manusia yang merusak lingkungan. Benar, tapi jika tidak ada hujan dengan kapasitas yang besar, apakah banjir bandang bisa terjadi? Lagi pula bukankah Tuhan telah berjanji bahwa meskipun hujan ia tidak akan mengubah segenap air menjadi air bah?

Bantahan lainnya adalah banjir bandang tersebut merupakan ujian atau cobaan dari Tuhan. Pertanyannya, apakah sebuah janji cukup dipatahkan dengan alasan ujian? Apakah sebuah tes, ujian, cobaan, harus mengorbankan banyak makhluk? Lagipula, ujian adalah percobaan untuk mengetahui mutu sesuatu, merupakan suatu tindakan yang tidak perlu dilakukan oleh Tuhan Yang Maha Mengetahui sejak permulaan waktu, yang pasti telah mengetahui secara detail hasil dari ujian tersebut.  Dengan mengatakan bahwa bencana alam adalah ujian atau cobaan dari Tuhan, secara tidak sadar kita telah mengatakan bahwa Tuhan tidak Maha tahu karena ia perlu melakukan tes, ujian, atau cobaan untuk mengetahui ketaatan umatnya.– S

Iklan