Patung Gus Dur, Penodaan Terhadap Toleransi Agama

Baru empat puluh hari lebih Gus Dur meninggalkan kita, beliau mungkin akan terganggu dan risau akan hal ini. Konon, untuk menghormati Gus Dur, beberapa seniman dari Jawa Tengah di Studio Mendut membuat berbagai karya dalam bentuk patung dan lukisan Gus Dur. Namun ada sebuah patung yang menjadi perhatian saya yaitu sebuah patung yang dihasilkan oleh seorang “seniman” bernama Cipto Purnomo (bisa di lihat gambarnya klik sini). Bagi kita yang belum pergi ke Candi Borobudur atau memperhatikan apa yang ada di Candi Borobudur maka kita tidak akan menyadari akan hal ini. Benar, patung Gus Dur buatan Cipto Purnomo sangat mirip dengan patung Sang Buddha yang ada di Candi Borobudur.

Patung Gus Dur buatan Cipto Purnomo ini, dilihat dari bentuk, struktur, dan gayanya sama dengan patung Buddha di Candi Borobudur, yang berbeda hanyalah wajah dan bagian dada yang berlubang (untuk lampu). Wajah Sang Buddha di ganti dengan wajah Gus Dur. Kemudian diletakkan beragam topeng di sekeliling patung itu. Lalu, apakah ada yang salah dengan patung ini? Mari kita bahas. Baca lebih lanjut

Gus Dur, Presiden RI Ke-4 Wafat

K.H. Abdurrahman Wahid

“Segala sesuatu yang terdiri dari paduan unsur adalah tidak kekal.”

Telah dibenarkan oleh Gus Sholah Adik kandung Gus Dur bahwa Abdurrahman ad-Dakhil Wahid atau sering disebut dengan nama Gus Dur, telah wafat di Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo pada Pukul 18.45 WIB. Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 adalah tokoh Muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia yang keempat dari tahun 1999 hingga 2001. Ia menggantikan Presiden B. J. Habibie setelah dipilih oleh MPR hasil Pemilu 1999. Penyelenggaraan pemerintahannya dengan dibantu oleh Kabinet Persatuan Nasional. Masa kepresidenan Abdurrahman Wahid yang dimulai pada 20 Oktober 1999, dan berakhir pada Sidang Istimewa MPR pada tahun 2001. Tepat 23 Juli 2001, kepemimpinannya digantikan oleh Megawati Soekarnoputri setelah mandatnya dicabut oleh MPR. Abdurrahman Wahid adalah mantan ketua Tanfidziyah (badan eksekutif) Nahdlatul Ulama dan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Pada tahun 1993, Gus Dur menerima Ramon Magsaysay Award, sebuah penghargaan yang cukup prestisius untuk kategori Community Leadership. Gus Dur ditahbiskan sebagai “Bapak Tionghoa” oleh beberapa tokoh Tionghoa Semarang di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, yang selama ini dikenal sebagai kawasan Pecinan pada tanggal 10 Maret 2004. Karena Gus Dur pulalah yang akhirnya memuluskan Tahun Baru Tionghoa (Imlek) menjadi hari libur Nasional.

Sebuah slogan: “Gitu aja kok repot…” merupakan slogan khas milik Gus Dur, sebuah slogan yang semoga akan selalu diingat oleh kita semua agar kita berusaha mengecilkan permasalahan yang besar, dan tidak membesar-besarkan masalah yang kecil. Semoga akan ada Gus Dur-Gus Dur yang lain yang dapat mempertahankan keharmonisan antar umat beragama dan antar etnis di Indonesia

Selamat jalan Gus Dur…. selamat jalan Bapak Pembela Minoritas.