Patung Gus Dur, Penodaan Terhadap Toleransi Agama

Baru empat puluh hari lebih Gus Dur meninggalkan kita, beliau mungkin akan terganggu dan risau akan hal ini. Konon, untuk menghormati Gus Dur, beberapa seniman dari Jawa Tengah di Studio Mendut membuat berbagai karya dalam bentuk patung dan lukisan Gus Dur. Namun ada sebuah patung yang menjadi perhatian saya yaitu sebuah patung yang dihasilkan oleh seorang “seniman” bernama Cipto Purnomo (bisa di lihat gambarnya klik sini). Bagi kita yang belum pergi ke Candi Borobudur atau memperhatikan apa yang ada di Candi Borobudur maka kita tidak akan menyadari akan hal ini. Benar, patung Gus Dur buatan Cipto Purnomo sangat mirip dengan patung Sang Buddha yang ada di Candi Borobudur.

Patung Gus Dur buatan Cipto Purnomo ini, dilihat dari bentuk, struktur, dan gayanya sama dengan patung Buddha di Candi Borobudur, yang berbeda hanyalah wajah dan bagian dada yang berlubang (untuk lampu). Wajah Sang Buddha di ganti dengan wajah Gus Dur. Kemudian diletakkan beragam topeng di sekeliling patung itu. Lalu, apakah ada yang salah dengan patung ini? Mari kita bahas. Baca lebih lanjut

Iklan

Nabi Muhammad Tidak Terdapat Dalam Kitab-Kitab Buddha

Teman, mari kita meluruskan apa yang tidak lurus, sehingga tidak ada lagi kesalahpahaman yang akan menimbulkan suatu permasalahan tersendiri ataupun pemutarbalikan fakta. Argumen ini ditujukan untuk membahas mengenai artikel-artikel dibuat oleh orang yang tidak bertanggungjawab yang berisi mengenai keberadaan Muhammad SAW dalam kitab suci agama Buddha. Sayangnya banyak orang-orang yang lugu mempercayai artikel ini mentah-mentah tanpa melakukan cek dan ricek terlebih dulu , dan langsung meng-copy paste (menjiplak) nya dari situs yang satu ke situs yang lain. Mari kita simak artikel sanggahan ini. Baca lebih lanjut

Agama Masa Depan

Suatu saat pikiran saya pernah terusik oleh suatu hal, sebuah pertanyaan mengenai masa depan. Pertanyaannya adalah: “Adakah agama di masa depan? Jika ada, seperti apakah agama masa depan itu? Di antara agama-agama besar yang ada sekarang ini, adakah yang menjadi agama masa depan yang akan mengayomi kehidupan dan menjadi panduan hidup manusia?”

Jika kita menanyakan hal ini kepada mereka yang telah menganut agama yang ada sekarang ini, maka masing-masing menjawab bahwa agama yang mereka anutlah yang akan menjadi agama masa depan, sehingga jawaban dari pertanyaan tersebut menjadi tidak valid lagi karena ketidaknetralan personal yang menjawab pertanyaan tersebut. Oleh karena itu jawaban harus berasal dari pihak-pihak yang netral.

Nampaknya tidaklah mudah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini mengingat pertanyaan tersebut berhubungan dengan masa depan, sebuah masa yang belum terjadi dan penuh misteri. Meskipun masih terselubung misteri, dengan mengacu pada hukum sebab-akibat atau aksi-reaksi kita bisa melihat tanda-tanda yang berhubungan dengan masa depan. Hukum sebab-akibat menyatakan bahwa segala kondisi yang terbentuk di masa depan merupakan hasil atau akibat yang diciptakan pada masa sekarang. Dan tidak ada yang bisa menjawab secara tegas dengan dalil sebab-akibat atau aksi-reaksi ini selain para ilmuwan yang selalu berkecimpung dalam masalah aksi-reaksi ini.

Tetapi, ilmuwan yang mana dan seperti apa? Kita memerlukan ilmuwan yang benar-benar memegang teguh prinsip-prinsip keilmuannya, piawai dalam bidangnya, hasil karyanya diakui oleh dunia dan tentu saja ia pernah membahas pandangannya mengenai agama. Setelah saya “berselancar” di dunia maya dan juga mengunjungi Om Wiki, dari semua ilmuwan, nampaknya hanya nama Albert Einstein yang memenuhi syarat sebagai ilmuwan yang dapat menjawab pertanyaan kita mengenai agama masa depan. Baca lebih lanjut