Islam Bukan Satu Satunya Agama Yang Tidak Gunakan Nama Pendirinya

Hari ini 10 September, saya mengikuti sebuah acara di Metro TV yaitu Ensiklopedia Islam, sebuah acara tahunan yang diadakan dalam rangka mengisi bulan Ramadhan. Tahun ini acara Ensiklopedia Islam bertemakan “Indahnya Shalat” yang membahas mengenai seluk-beluk shalat.

Acara yang disiarkan langsung selama kurang lebih satu jam dari pukul 17.00 WIB dan yang dipandu oleh Shahnaz Haque, kali ini membahas tema Jama’ah. Narasumber yang hadir adalah Ustadz Abu Sangkan.

Yang menjadikan acara ini sedikit menarik untuk saya kritisi adalah penjelasan Ustadz Abu Sangkan mengenai perbandingan nama pada agama-agama besar.

Beliau mengatakan bahwa Islam adalah satu satunya agama yang tidak menggunakan nama pendirinya ataupun tempat sebagai nama ajarannya. Kristen dari Christian (nama pendirinya Jesus Christ), Hindu dari Hindustan (nama tempat dataran Hindustan), Kejawen dari Jawa (nama tempat yaitu Jawa) Buddhisme dari Buddha (nama orang). Sedangkan Islam sendiri menggunakan nama Islam yang dapat diterjemahkan sebagai ‘berserah diri’, ‘tunduk’ dan secara etimologis kata Islam diturunkan dari akar yang sama dengan kata salam yang berarti ‘damai’. Lalu, apakah benar yang disampaikan oleh Ustadz Abu Sangkan tersebut? Ternyata tidak sepenuhnya benar. Baca lebih lanjut

Iklan

Agama Masa Depan

Suatu saat pikiran saya pernah terusik oleh suatu hal, sebuah pertanyaan mengenai masa depan. Pertanyaannya adalah: “Adakah agama di masa depan? Jika ada, seperti apakah agama masa depan itu? Di antara agama-agama besar yang ada sekarang ini, adakah yang menjadi agama masa depan yang akan mengayomi kehidupan dan menjadi panduan hidup manusia?”

Jika kita menanyakan hal ini kepada mereka yang telah menganut agama yang ada sekarang ini, maka masing-masing menjawab bahwa agama yang mereka anutlah yang akan menjadi agama masa depan, sehingga jawaban dari pertanyaan tersebut menjadi tidak valid lagi karena ketidaknetralan personal yang menjawab pertanyaan tersebut. Oleh karena itu jawaban harus berasal dari pihak-pihak yang netral.

Nampaknya tidaklah mudah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini mengingat pertanyaan tersebut berhubungan dengan masa depan, sebuah masa yang belum terjadi dan penuh misteri. Meskipun masih terselubung misteri, dengan mengacu pada hukum sebab-akibat atau aksi-reaksi kita bisa melihat tanda-tanda yang berhubungan dengan masa depan. Hukum sebab-akibat menyatakan bahwa segala kondisi yang terbentuk di masa depan merupakan hasil atau akibat yang diciptakan pada masa sekarang. Dan tidak ada yang bisa menjawab secara tegas dengan dalil sebab-akibat atau aksi-reaksi ini selain para ilmuwan yang selalu berkecimpung dalam masalah aksi-reaksi ini.

Tetapi, ilmuwan yang mana dan seperti apa? Kita memerlukan ilmuwan yang benar-benar memegang teguh prinsip-prinsip keilmuannya, piawai dalam bidangnya, hasil karyanya diakui oleh dunia dan tentu saja ia pernah membahas pandangannya mengenai agama. Setelah saya “berselancar” di dunia maya dan juga mengunjungi Om Wiki, dari semua ilmuwan, nampaknya hanya nama Albert Einstein yang memenuhi syarat sebagai ilmuwan yang dapat menjawab pertanyaan kita mengenai agama masa depan. Baca lebih lanjut