Semakin Tinggi Semakin Ringan

bird and tree

Semakin Tinggi Semakin Ringan

Teman, pernahkah kita memperhatikan pucuk dari sebuah pohon yang menjulang tinggi? Pucuk dari sebuah pohon yang menjulang tinggi tidaklah memiliki banyak daun. Pucuk dari sebuah pohon yang menjulang tinggi memiliki berat yang lebih ringan dibanding dengan bagian pohon lainnya. Oleh karena itulah ia bisa menjulang tinggi, berada di atas.

Lihat pula burung yang terbang tinggi di angkasa. Teman, burung yang terbang tinggi di angkasa memiliki bobot tubuh yang ringan. Ia memiliki tulang yang ringan dibandingkan dengan hewan yang lain. Oleh karena itu ia bisa terbang tinggi. Semakin tinggi, semakin ringan.

Sekarang coba kita perhatikan para pejabat, atasan, pimpinan atau mereka yang memiliki kedudukan, pangkat yang tinggi. Apakah mereka membawa hal-hal yang berat ketika berpergian? Tidak. Mereka hanya membawa sendiri yang mereka anggap perlu yang sifatnya ringan. Seorang presiden, ia tidak membawa mobilnya sendiri, ia tidak membawa berkas-berkas laporan yang berjilid-jilid. Ia hanya membawa sebuah pulpen. Semakin tinggi jabatan, kedudukan seseorang maka semakin sedikit yang ia bawa, dan semakin ringan beban yang ia rasakan. Baca lebih lanjut

Iklan

Menjadi Orang Buta Yang Bijak

blindTeman, pernahkah engkau mendengar ataupun membaca mengenai sebuah kisah perumpamaan yang berjudul: ”Orang Buta dan Seekor Gajah”? Jika belum, berikut kisah perumpamaan tersebut.

Suatu ketika ada lima orang buta yang tidak pernah melihat gajah seumur hidup mereka. Mereka pergi ke perkemahan sirkus dan mereka dipertemukan dengan seekor gajah oleh pemilik sirkus tersebut. Pemilik sirkus tersebut mengatakan kepada kelima orang buta itu bahwa gajah ini adalah hewan yang lebih besar dan berat dari manusia.

Teman, dengan menggunakan tangan, kelima orang buta tersebut meraba gajah tersebut untuk mengetahui bentuk sebenarnya dari gajah itu. Orang buta pertama meraba belalai gajah tersebut dan mengatakan, ”Oh, gajah itu seperti selang yang besar!” Orang buta kedua meraba kaki gajah tersebut dan mengatakan, ”Oh, gajah itu seperti batang pohon besar!” Orang buta ketiga meraba kuping gajah tersebut dan mengatakan, ”Oh, gajah itu seperti daun kipas yang besar!” Kemudian, orang buta keempat meraba tubuh si gajah yang berbulu kasar itu dan mengatakan, ”Oh, gajah itu seperti karung goni yang sangat besar sekali!” Dan terakhir, orang buta kelima memegang buntut si gajah dan mengatakan, ”Oh, gajah itu seperti kabel besar yang ujungnya berambut!

Dalam perjalanan pulang, kelima orang buta tersebut saling berdebat mengenai bentuk sesungguhnya dari seekor gajah. Masing-masing mempertahankan pendapatnya mengenai bentuk gajah yang mereka dapat dari meraba tubuh gajah tersebut, dan akhirnya bereka saling bertengkar satu sama yang lain. Baca lebih lanjut

Filosofi Phoenix

phoenixTeman, tahukah kau mengenai phoenix (baca: finiks)? Yup, phoenix adalah burung api mistik dalam mitologi. Mitologi phoenix ini nampaknya terdapat di beberapa negara seperti Mesir, Libanon, Yunani, China, sampai Jepang.

Dikatakan dalam mitos, selain memiliki bulu berwarna merah dan keemasan, phoenix disebut burung api karena ia bisa mengeluarkan api dari dalam dirinya untuk mengkremasikan dirinya sendiri ketika menjelang kematiannya. Tapi teman, ada deskripsi lain yang mengatakan bahwa ia benar-benar memiliki tubuh yang terbuat dari api. Tubuh phoenix yang indah ini, dikatakan dapat beregenerasi (pulih kembali) ketika ia terluka.

Juga dalam mitos dikatakan bahwa seekor phoenix memiliki usia panjang sekitar 500 tahun bahkan ada yang mengatakan selama 1461 tahun. Ketika menjelang kematiannya ia akan membuat sarang dari ranting-ranting pohon kayu manis, dan ia bersama dengan sarangnya akan terbakar sampai menjadi abu. Tapi dari sisa-sisa abu inilah muncul kehidupan baru dari seekor anak phoenix. Baca lebih lanjut

Proses

Teman, pernahkah kita ingin mencapai, mendapatkan, atau menjadi sesuatu? Mencapai ke suatu tempat, mendapatkan ini dan itu, menjadi kenyang, kaya, bahagia, dan sebagainya? Nampaknya tidak ada manusia yang tidak ingin mencapai, mendapatkan, atau menjadi sesuatu.

Ketika kita ingin mencapai, mendapatkan, atau menjadi sesuatu, kita memerlukan suatu yang disebut dengan proses. Ketika kita ingin merasakan kenyangnya perut ini, maka kita memerlukan proses untuk mengenyangkan perut ini. Ketika kita ingin menjadi seorang yang ahli dalam bidang tertentu, kita memerlukan proses untuk memiliki keahlian dalam bidang tersebut. Dan ketika kita ingin mencapai perubahan pada diri kita atau orang lain, itu pun memerlukan proses. Tidak ada yang benar-benar instan di dunia ini.

Teman, sebuah proses memerlukan waktu, cepat atau lambat, sedetik, satu jam, satu bulan, tahunan atau bahkan jutaan tahun. Kadangkala kita tidak menjadi sabar untuk menunggu proses tersebut berjalan. Bahkan ketika pikiran kita terlalu menuntut agar proses tersebut cepat selesai, kita tidak menyadari perubahan kecil apa yang telah terjadi ketika sesuatu itu berproses. Ketika kita tidak sadar telah terjadi perubahan sekecil apapun, kita merasa tidak ada yang berubah. Dan ketika kita merasa tidak ada yang berubah sesuai dengan harapan, keinginan kita, maka kita mulai menggerutu.

Teman, dari pada menggerutu karena ulah kita sendiri yang tidak sabar dan sadar akan perubahan adalah lebih baik bagi kita untuk menikmati proses yang terjadi.

“Seperti seekor ulat yang berproses menjadi kepompong untuk menjadi seekor kupu-kupu yang indah, begitu pula kita ataupun orang lain memerlukan proses untuk menjadi sesuatu yang indah.”

S