Nabi Muhammad Tidak Terdapat Dalam Kitab-Kitab Buddha

Teman, mari kita meluruskan apa yang tidak lurus, sehingga tidak ada lagi kesalahpahaman yang akan menimbulkan suatu permasalahan tersendiri ataupun pemutarbalikan fakta. Argumen ini ditujukan untuk membahas mengenai artikel-artikel dibuat oleh orang yang tidak bertanggungjawab yang berisi mengenai keberadaan Muhammad SAW dalam kitab suci agama Buddha. Sayangnya banyak orang-orang yang lugu mempercayai artikel ini mentah-mentah tanpa melakukan cek dan ricek terlebih dulu , dan langsung meng-copy paste (menjiplak) nya dari situs yang satu ke situs yang lain. Mari kita simak artikel sanggahan ini. Baca lebih lanjut

Iklan

Semakin Tinggi Semakin Ringan

bird and tree

Semakin Tinggi Semakin Ringan

Teman, pernahkah kita memperhatikan pucuk dari sebuah pohon yang menjulang tinggi? Pucuk dari sebuah pohon yang menjulang tinggi tidaklah memiliki banyak daun. Pucuk dari sebuah pohon yang menjulang tinggi memiliki berat yang lebih ringan dibanding dengan bagian pohon lainnya. Oleh karena itulah ia bisa menjulang tinggi, berada di atas.

Lihat pula burung yang terbang tinggi di angkasa. Teman, burung yang terbang tinggi di angkasa memiliki bobot tubuh yang ringan. Ia memiliki tulang yang ringan dibandingkan dengan hewan yang lain. Oleh karena itu ia bisa terbang tinggi. Semakin tinggi, semakin ringan.

Sekarang coba kita perhatikan para pejabat, atasan, pimpinan atau mereka yang memiliki kedudukan, pangkat yang tinggi. Apakah mereka membawa hal-hal yang berat ketika berpergian? Tidak. Mereka hanya membawa sendiri yang mereka anggap perlu yang sifatnya ringan. Seorang presiden, ia tidak membawa mobilnya sendiri, ia tidak membawa berkas-berkas laporan yang berjilid-jilid. Ia hanya membawa sebuah pulpen. Semakin tinggi jabatan, kedudukan seseorang maka semakin sedikit yang ia bawa, dan semakin ringan beban yang ia rasakan. Baca lebih lanjut

Agama Masa Depan

Suatu saat pikiran saya pernah terusik oleh suatu hal, sebuah pertanyaan mengenai masa depan. Pertanyaannya adalah: “Adakah agama di masa depan? Jika ada, seperti apakah agama masa depan itu? Di antara agama-agama besar yang ada sekarang ini, adakah yang menjadi agama masa depan yang akan mengayomi kehidupan dan menjadi panduan hidup manusia?”

Jika kita menanyakan hal ini kepada mereka yang telah menganut agama yang ada sekarang ini, maka masing-masing menjawab bahwa agama yang mereka anutlah yang akan menjadi agama masa depan, sehingga jawaban dari pertanyaan tersebut menjadi tidak valid lagi karena ketidaknetralan personal yang menjawab pertanyaan tersebut. Oleh karena itu jawaban harus berasal dari pihak-pihak yang netral.

Nampaknya tidaklah mudah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini mengingat pertanyaan tersebut berhubungan dengan masa depan, sebuah masa yang belum terjadi dan penuh misteri. Meskipun masih terselubung misteri, dengan mengacu pada hukum sebab-akibat atau aksi-reaksi kita bisa melihat tanda-tanda yang berhubungan dengan masa depan. Hukum sebab-akibat menyatakan bahwa segala kondisi yang terbentuk di masa depan merupakan hasil atau akibat yang diciptakan pada masa sekarang. Dan tidak ada yang bisa menjawab secara tegas dengan dalil sebab-akibat atau aksi-reaksi ini selain para ilmuwan yang selalu berkecimpung dalam masalah aksi-reaksi ini.

Tetapi, ilmuwan yang mana dan seperti apa? Kita memerlukan ilmuwan yang benar-benar memegang teguh prinsip-prinsip keilmuannya, piawai dalam bidangnya, hasil karyanya diakui oleh dunia dan tentu saja ia pernah membahas pandangannya mengenai agama. Setelah saya “berselancar” di dunia maya dan juga mengunjungi Om Wiki, dari semua ilmuwan, nampaknya hanya nama Albert Einstein yang memenuhi syarat sebagai ilmuwan yang dapat menjawab pertanyaan kita mengenai agama masa depan. Baca lebih lanjut