Makna Di Balik Tradisi Makan Onde di Bulan Desember

Tang Yuan / Onde / Ronde

Tang-yuan / Onde / Ronde:. Sbr foto :mochidesu.tumblr.com

Setiap bulan Desember pada sekitar tanggal 21 atau 22, masyarakat Tionghoa secara tradisi merayakan hari festival Dongzhi (冬至) / Tang-cheh (冬節) / Tōji (冬至) / Dongji (동지) / Đông Chí yang berarti Musim Dingin Yang Ekstrem. Dan pada perayaan tersebut mereka memakan makanan yang di masyarakat keturunan etnis Tionghoa di Indonesia sering disebut dengan Onde atau Ronde. Sebuah jenis makanan yang terbuat dari tepung ketan dibentuk bulat besar atau kecil yang disajikan di dalam kuah yang terbuat dari air dan gula. Makanan Onde atau Ronde tersebut di negeri asalnya, Tiongkok, bernama Tāngyuán (Kue Bola Ketan) atau Yuanxiao atau Tangtuan. Baca lebih lanjut

Kisah Imlek, Cerita Tragis Dewa Dapur

Delapan hari sebelum Tahun Baru Imlek, secara tradisi dan kepercayaan rakyat Tiongkok, masyarakat etnis Tionghoa mengadakan doa atau persembahyangan kepada Dewa Dapur yang dikenal dengan nama Coa Kung Kong atau Zao Jun atau Zao Shen. Dewa Dapur ini secara tradisi dipercaya sebagai pelindung dari keluarga dan menempatkan posisinya di dapur setiap rumah. Ia menjadi salah satu bagian penting dalam perayaan Imlek.

Konon, setiap menjelang Imlek, tepatnya seminggu sebelum Imlek, Dewa Dapur akan meninggalkan tempatnya bekerja untuk pergi menuju surga untuk memberikan laporan kepada Kaisar Langit/Surga (Yu Huang) mengenai kondisi setiap keluarga yang ada di bumi. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Tepekong Naik. Jika Coa Kung Kong atau Zao Jun memberikan laporan yang baik terhadap suatu keluarga, maka Kaisar Langit akan memberikan anugerah kepada keluarga tersebut, jika sebaliknya maka Kaisar Langit akan memberikan hukuman. Baca lebih lanjut

Ketika Mbah Surip Menggendong Burung Merak

Tulisan terakhir saya adalah lirik lagu “Tak Gendong” yang dinyanyikan oleh Mbah Surip yang saya anggap sebagai lagu yang sangat populer.  Tetapi tidak disangka-sangka 2 minggu lebih 2 hari kemudian saya mendengar bahwa Mbah Surip telah meninggal dunia pada Selasa tanggal 4 Agustus. Hampir tidak percaya, tapi inilah kenyataannya.

Benar atau salah, menurut mitos tradisi Jawa, hari Selasa dan Sabtu adalah hari yang tidak baik bagi seseorang untuk meninggal. Konon mereka yang meninggal pada hari Selasa akan menggendong / membawa ikut serta kerabat atau orang yang dianggap dekat untuk ikut bersamanya, alias akan meninggal juga.

Selang 1 hari setelah Mbah Surip meninggal, hari Kamis 6 Agustus kita juga dikagetkan dengan meninggalnya WS Rendra seorang budayawan sekaligus seniman ternama Indonesia yang dikenal dengan julukan si Burung Merak. Beliau juga cukup dekat dengan Mbah Surip karena beliau mengijinkan Mbah Surip dikebumikan di Bengkel Teater miliknya.

Apakah mitos Jawa ini benar-benar terjadi? Apakah ini sebuah kebetulan belaka? Apakah benar Mbah Surip menggendong si Burung Merak seperti lagunya “Tak Gendong”? Jawabannya terserah anda.